Minggu, 01 Mei 2011

Rintihan yang Tak Bisa Dibeli



Pemuda itu, kini, sudahjadi orang. Ia lulus kuliah, kemudian memiliki jabatan lumayan di sebuah perusahaan ternama. Selain itu, ia punya bisnis yang bisa menopang jabatan itu kian bersinar terang. Semua itu membuat ia dihormati, tidak saja ditempat ia bekerja, tapi juga di lingkungan tempat tinggalnya.

Tapi, kesuksesan itu membuat ia lupa diri. Kekayaan yang ia miliki dan jabatan yang ia sandang membuatnya sombong. Ia merasa segalanya bisa dibeli dengan uang. Lebih ironis, ia merasa bisa membeli jerih payah seorang ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Suatu hari, ia pulang ke kampung. Ia yang sudah merasa berhasil, lalu menawari ibunya. “Apa yang ibu inginkan? Dengan senang hati, saya akan membelikan segala yang ibu minta.”

Dengan uang yang ia miliki, ia berharap bisa menggantikan jerih payah sang ibu. Tapi apa jawaban sang ibu? Dengan enteng sang ibu menjawab, “Ibu tak ingin apa-apa.”

Tapi, sang anak it uterus memaksa ibunya untuk menyebutkan apa yang menjadi keinginannya dan ia akan siap membelikannya. Kembali sang ibu menjawab, “Ibu tidak menginginkan apa-apa! Tapi jika kau terus memaksaku, tunggulah nanti pagi. Ibu akan minta kau melakukan satu hal.”

Malam pun tiba. Sang ibu dan pemuda itu tidur. Saat pagi dating dan sang ibu bangun untuk menunaikan shalat subuh. Tapi, sebelum shalat, ia membangunkan anaknya dengan lembut. Sayang, usapan lembut sang ibu tersebut tak mampu membangunkan anaknya. Sang ibu mengambil inisiatif :memercikkan setitik air ke muka anaknya.

Seketika itu, pemuda tersebut bangun. Amarah menggumpal di ubun-ubun, dan ia pun memuntahkan amarah itu kepada ibunya. Dengan penuh kasih saying, si ibu hanya berucap, “Kemarin kau berjanji akan menuruti keinginan ibumu. Aku tidak meminta apapun dan aku hanya memintamu bangun. Tetapi, kau malah memarahi ibumu. Kamu ini rupanya tidak sadar bahwa dulu ibumu tidak tidur semalaman demi menjagamu. Saat kau sakit, ibu tak tidur demi kamu. Jadi, sampai kapan pun, kau tak akan pernah bisa membeli apalagi menggantikan jerih payah ibumu. Kasih ibu tak akan pernah pupus ditelan zaman.”

Ucapan sang ibu langsung membuatnya tersadar. Ia diam,merenung dan tidak bisa berkata-kata. Kasus di atasmeneguhkan apa yang pernah disabdakan Rasulullah, “Engkau tak akan pernah bisa menggantikan semua jerih payahnya bahkan satu rintihan di antara rintihan-rintihannya saat melahirkan. Di dunia ini, tidak ada yang bisa bekerja keras melebihi apa yang dilakukan oleh seorang ibu.” (HR. Muslim)



Sumber : MH

0 komentar:

Poskan Komentar