Sabtu, 10 April 2010

DUA SANTRI SALAH TAFSIR


Fahmi dan Agus, dua santri senior di sebuah pesantren terkenal, beserta ustadz Makmun, suatu ketika jalan-jalan ke Arab dan Mesir. Dengan bekal bahasa Arab mumpuni yang mereka pelajari selama bertahun-tahun mendalami kitab kuning, Fahmi dan Agus dengan percaya diri menuju Arab. Mereka sudah tak sabar untuk mempraktekkan langsung bahasa Arabnya kepada orang Arab asli disana.

Dengan menggunakan pesawat terbang, mereka pun sampai juga di Arab. Fahmi dan sahabatnya takjub melihat banyaknya orang berpakaian ala syekh di sana. Orang-orang yan berlalu lalang semuanya berbahasa Arab dan Inggris membuat dua santri shaleh ini semakin bersemangat.

“Wah, wah. Sepertinya semua orang di sini ulama semua ya, Gus,” ujar fahmi tercengang.
“iya, iya. Orangnya tinggi-tinggi semua, bewokan dan putih-putih, mirip habib-habib di Jawa,” ujar Agus tak kalah takjub.
Namun, baru saja sejam di Bandara menunggu jemputan, dua santri ini sudah dibuat bingung.
“Mi, kau lihat itu!” ujar Agus sambil menunjuk sebuah konter makanan.
“Ada apa?”
“Di konter itu dijual makanan bernama “A’isyyu Karim”. Itu kan artinya hidup mulia. Masak makanan dinamai begitu? Ujar Agus.
Fahmi menoleh dan melihat tulisan itu.
“Iya, iya. Aneh ya? Dari bentuknya sih itu kan es tung-tung, tapi kok mereknya begitu,”ujar Fahmi juga bingung.
“Wah, wah, bahaya ini, bahaya! Ternyata benar omongan orang selama ini bahwa dunia termasuk jazirah Arab sudah dikuasai kapitalisme sampai sampai es tung-tung yang biasa demam diberi merek begitu,’ujar Agus.
“Artinya kapitalisme itu mengajarkan bahwa dengan berbelanja orang akan hidup mulia Mi. Sungguh penyesatan yang nyata, kapitalisme sudah merusak umat dengan segala cara,”ujar Fahmi prihatin.
Ustadz Makmun yang sedari tadi mendengarkan sambil membaca Koran hanya senyum-senyum saja. Tulisan yang dibaca dua santrinya itu tak lain adalah es cream (es krim) yang ditulis dengan aksara Arab.
Saat dalam perjalanan menuju penginapan, kembali Fahmi dan Agus gusar. Mereka dengan jelas membaca plang rambu lalu lintas bertuliskan “mamnu’u dukhul”. Awalnya mereka merasa salah lihat, tapi ternyata mereka menemukan lagi plang itu. Kata dukhul’ dalam kitab kuning yang mereka bisa baca artinya adalah “senggama”(hubungann sex).
“Gila orang Arab itu,Mi. Masak ada larangan bersenggama di jalanan. Mana ada orang bersenggama di jalanan, adanya juga kan dikamar atau kasur,”ujar Agus lagi.
“Iya, gila sekali, Gus. Tapi jangan-jangan di Arab lagi banyak kejadian seperti itu, makanya ada larangan sperti itu. Duh ternyata budaya Arab sekarang sudah kebarat-baratan, sudah rusak,”ujar Fahmi sedih.
Ustadz Makmun yang agak ngantuk bergoyang-goyang perutnya menahan geli, melihat tingkah laku dua santrinya. “Mamnu’u dhukhul” ternyata adalah tanda yang menunjukkan jalanan satu arah, hingga kedaraan yang belainan arah tak boleh masuk.
Kegilaan orang Arab semakin menjadi-jadi di mata dua santri yang lugu ini ketika keesokan harinya mereka jalan-jalan menggunakan bis keliling kota. Mereka membaca tulisan di dinding bis, “mamnu’u injal rakib fi toriq” dengan ilmu bahasa Arab yang mereka kuasai dengan mengartikan dengan tak percaya kalimat itu.
“Dilarang ejakulasi Bagi Setiap Penumpang Di Jalan”ujar mereka berdua saling berpandangan.
“Makin gila,Gus . makin gila ini,” ujar Fahmi.
“Iya Naudzubillah, Naudzubillah….ujar Agus.
“Sudah rusak, Gus. Orang Arab sudah rusak. Sepertinya jika dulu tanah Arab adalah sumber para pendakwah, sekarang sepertinya tanah Arab menjadi daerah yang saat memerlukan dakwah islam,Gus ,”ujar Fahmi lagi.
Kembali ustadz Makmun yang mendengar percakapan itu badannya berguncang, menahan ketawa. Kata “injal” yang dipelajari pesantren lewat kitab kuning memang berarti “ejakulasi”. Namun ternyata dalam kalimat tersebut berbeda. Tulisan itu maknanya tak lain adalah larangann bagi penumpang agar tidak mengeluarkan anggota tubuhnya dalam perjalanan.
“Itulah kalau belajar Kitab kuning hanya memperhatikan bagian-bagian yang hot-hot saja,”ujar Ustadz Makmun dalam hati sambil terus berusaha menahan geli.



1 komentar:

fahmi ulumuddin on 3 Juni 2010 18.56 mengatakan...

refleksi santri tradisonal, tapi kenapa namanya harus fahmi gak husen aja.....,

Poskan Komentar