Sabtu, 10 April 2010

KISAH DUA SAHABAT SETIA


Suatu waktu, dua pemuda santri , Bejo dan kerso, nyaris dilanda kesedihan karena keduanya akan berpisah.
Saat itu, tepatnya pada malam perpisahan kelas akhir, Bejo dan Kerso tampak duduk termenung. Pasalnya, dua kawan setia itu bakalan berpisah.
Yang satu akan masuk ke Perguruan Tinggi, sementara yang satunya lagi ke pesantren salafi (klasik), yaitu pesantren yang khusus mempelajari ilmu agama saja. Bejo ke Jakarta, sementara Kerso ke Kediri. Maka terjadilah dialog anatara mereka. “ Kerso, aku mau kulliah ke Jakarta. Niatku sudah bulat,” Tanya Kerso. “Ya.Kamu sendiri ? kata Bejo, balik bertanya.
Aku ke pesantren lagi aja. Ilmu kitab Kuningku belum matang.”
“Baiklah kawan. Kalau begitu, kita berpisah di sini. Semoga kita sama-sama menjadi manusia berguna.” Kata Bejo, sambil memeluk erat sahabat dekatnya itu. Kedua sahabat itu pun berpisah untuk meniti jalan hidupnya masing-masing. Hingga akhirnya, 15 tahun kemudian, tersiar sebuah kabar, bahwa bejo lolos masuk ke senayan. Bejo telah menjadi anggota dewan yang terhormat. Sementara itu, kerso masih berkutat dengan Kitab kuningnya.
Bejo tinggal di sebuah kampung, dan menjadi ustadz bagi orang-orang kampung. Ia mengajar ngaji anak-anak kecil di surau. Ia hidup bersama istri dan keempat anaknya. Himpitan ekonomi yang kian berat membuat kerso tampak kurus dan terlibat lebih tua dari usianya.
Dalamm kondisi ini, kerso kemudian teringat dengan temannya yang kini menjadi orang penting di Jakarta. Kata orang, minta pekerjaan kepada anggota DPR pasti gampang. Dijamin bisa cepat dapat kerja.
Maka, dengan penuh keyakinan, kerso pun berangkat ke Jakarta. Ia mengunjungi teman dekatnya, yng sudah 15 tahun tak pernah bersua.
Di gedung anggota dewan yang terhormat itu, bejo menempati posisi penting. Setelah bertemu, mereka berdua saling berpelukan.
“Apa kabar, Jo? Tanya Kerso, penuh gembira.
“Baik, jawab bejo, dengan sedikit rasa canggung.
Penampilan Kerso yang tampak kampungan membuat Bejo sedikit kurang nyaman. Maklum, namanya juga anggota dewan yang terhormat.
“Aku membutuhkan pertolonganmu untuk dapat pekerjaaan. Aku sedang kepepet ekonomi. Tapi, aku hanya punya ijazah SMA.” Kata Kerso, meceritakan maksudnya.
“Apa kamu pernah menjadi anggota sebuah partai ?”kata bejo.
“Ya aku pernah ikut pertaidi kampung. Tapi, aku tak punya jabatan apa-apa di partai.
“Oke, kamu bisa jadi anggota dewan, gajimu 60 juta sebulan.”
“Jangan, berikan aku jabatan yang tidak sepenting itu,”kata kerso.
“Baiklah kalau begitu, kau akan aku tunjuk menjadi direktur perusahaan Negara. Gajimmu 40 juta sebulan.”kaa bejo lagi.
“Itu masih terlalu penting untukku, jangan sepenting itu,”kata kerso lagi.
“Baiklah, kau akan aku angkat sebagai kapala bagian dan statusmu Pegawai Negri dengan gaji 20 juta sebulan, kata bejo sambil menghisap cerutunya.
“Wah, itu masih terlalu tinggi. Mungkin kamu bisa mengangkatku menjadi seorang tukang ketik saja di kelurahan dengan gaji 500 ribu perbulan ,”kata kerso penuh harap.
“Wah…tidakk bisa itu…!!!”kata ketua dewan itu dengan muka serius.
“Ko tidak bisa, Jo?”
“Ya, tidak bisa.”
“Kenapa?”
“untuk menjadi seorang tukang ketik di kelurahan, minimal kamu harus kuliah dan punya ijazah S1.”
“Apa..? Jadi tukang ketik di kelurahan harus berpendidikan lebih tinggi dari pada anggota dewan…!!!”kata kerso. Dengan penuh kaget.
“Ya, hehehehe…”jawab bejo,dengan santainya.



0 komentar:

Poskan Komentar